Mohon maaf pemirsa, episode terakhir kisah pendakian Gunung Gede penayangannya harus tertunda cukup lama. Bukan gara-gara gunung Gede-nya tiba2 pindah menjelang saya nulis episode 3, atau tiba2 gunungnya tertukar *emangnya sinetron, ada Gunung Yang Tertukar*, gunungnya masih betah buka lapak di Jawa Barat kok. Masalahnya ada pada saya sebagai pemeran utama, tiba-tiba saya tersadarkan oleh sebuah ayat palsu yang palsunya sampai tujuh turunan, tp isinya bener jg, yang berbunyi “Barangsiapa di antara kamu telah menjadi mahasiswa tingkat akhir plus plus, bersegeralah untuk menyelesaikan apa yang telah menjadi tugas akhir bagimu, niscaya kamu akan segera merasakan wisuda. Dan jika kamu wisuda tanpa pewe, maka itu sudah menjadi nasibmu“. Sebagai konsekuensi dari keyakinan saya terhadap ayat tersebut, saya pun harus lebih banyak meninggalkan dunia maya untuk menghadapi dunia luna, termasuk dalam masalah perbloggingan. Pada akhirnya saya berhasil menyelesaikan tugas akhir dan saya lulus lolos dalam sidang kasus pencabulan nenek-nenek di bawah umur tugas akhir saya. Alhamdulillah sekarang udah ST 12. Continue reading
Gunung Yang Tidak Kecil Itu Gunung Gede (Episode 3)
Gunung Yang Tidak Kecil Itu Gunung Gede (Episode 2)
Sabtu, 25 Desember 2010
Cinta Fitri masih memberi inspirasi bagi saya untuk melanjutkan episode kisah perjalanan menuju puncak Gede. Miska memang jahat sih, tapi perjalanan menuju puncak tetep must go on. Oke, biar Cinta Fitri banget, mari flashback dulu ke episode sebelumnya. Di episode sebelumnya diceritakan bahwa para “bekpeker frik” (baca:backpacker freak) calon penginjak puncak gede masih berada di pos pemeriksaan setelah menyerahkan ke petugas segala macam bentuk sabun-sabunan yang cukup membahayakan bagi kelangsungan hidup para pendaki,kalau sabunnya dimakan. Sekarang saatnya melangkahkan kaki yang disponsori sendal Eiger menuju puncak kemilau cahaya mengukir cita seindah asa, menuju puncak impian sejati bersatu janji kawan sejati. *obsesi jadi bintang AFI mas?*
Di deket pos pemeriksaan itu, terdapat papan berisikan berisikan peraturan yang harus dipatuhi pendaki, semacam tidak boleh merusak dan mencemari lingkungan, tidak boleh membuat api unggun, tidak boleh memetik edelweis, dan berbagaimacam ketidakbolehan lain. TNGGP ini peraturannya memang bejibun, sebanyak-banyak dosa Firaun. Untung aja tidak ada peraturan yang menyebutkan bahwa para pendaki tidak boleh bermuka hancur, atau tidak boleh berstatus mahasiswa bangkotan, kalau ada sudah pasti kalah sebelum bertanding, mentok nyampe pos pemeriksaan doang. Continue reading
Gunung Yang Tidak Kecil Itu Gunung Gede (Episode 1)
Jumat 24 Desember 2010
Hari itu hari jumat, hari dimana dunia persandalan nasional selalu ramai, karena begitu banyak sandal yg tiba2 berganti tuan selepas sholat jumat. Sayang sekali sendal saya tak berubah jd tambah bagus padahal saya sudah berdoa, “Ya Allah, jika sandal saya tertukar, berikanlah tukeran sandal yg lebih baik dari sandal saya sekarang pas jumatan nanti. Kabulkan Doa Baim ya Allah. Amin.”.
Pagi hari di jumat itu, tas semi kerir (baca: carrier) yg saya pinjem dr temen sudah bisa berdiri sendiri tanpa halangan suatu apapun, gara2 tas itu sudah penuh dengan barang2 yg sudah saya jejal-jejalin sejejal-jejalnya pada malam harinya, entah kalo dibuka lagi barang-barang itu sudah jadi apa. sebelumnya, dini hari sekitar jam 1-an, saya mendadak beralih profesi jadi tukang resleting. Hal ini gara-gara resleting di tas tersebut tidak bisa menjalankan tugasnya untuk melindungi dan mengayomi seisi tas dengan baik dan benar. Ada permasalahan teknis dimana salah satu resleting tas itu lepas, dan ada bagian yang patah. Setelah berusaha sekuat tenaga mengerahkan jiwa raga selama sekitar satu jam, akhirnya resleting itu pun bisa berfungsi kembali. Kejadian ini membuat saya tersadarkan, betapa pentingnya benda yang dinamakan resleting. Saya rasa resleting merupakan penemuan paling fenomenal abad ini. SBY atau Obama saja juga pakai resleting di celananya, sulit dibayangkan kegemparan dunia ini kalau resleting di celana mereka tak digunakan atau rusak sehingga terlihat hal-hal yang tak seharusnya terlihat. Tak bisa dipungkiri lagi, resleting memang sangat berguna bagi nusa dan bangsa. Eh, ini kenapa malah bahas resleting! (doh)
Continue reading
Membangkitkan Blog Lama Yang Sempat Tercecer Bagai Kaleng-kaleng Berserakan
Blog ini sebenarnya sudah cukup lama, merupakan salah satu blog dari berpuluh juta ribu ratus blog yang ada di dunia, dan salah satu blog dari puluhan blog yang pernah saya buat. Tiba-tiba pengen mendokumentasikan perjalanan-perjalanan yang saya lakukan di blog. Dan blog inilah yang akhirnya saya rombak ulang untuk menjadi tempat catatan perjalanan. Postingan-postingan sebelumnya yang tidak terlalu membumi di dunia perblogingan amatir saya hapus semua saja, dan semoga akan tergantikan postingan-postingan baru tentang perjalanan-perjalanan yang saya lakukan. Bekicot aja postingan-postingan setelah ini.
Saya resmikan pembukaan kembali blog “Hanya Rakyat Jelantah Sahaja Yang Teronggok Bagai Kaleng Berserakan” ini sekarang juga.
Gong! Gong! Gooooonnggg! *suara nabuh gong*
Blog baru enggar
selamat datang di blognya enggar. ni blog belom di isi apa2. cupu sih! hehe