Jumat 24 Desember 2010
Hari itu hari jumat, hari dimana dunia persandalan nasional selalu ramai, karena begitu banyak sandal yg tiba2 berganti tuan selepas sholat jumat. Sayang sekali sendal saya tak berubah jd tambah bagus padahal saya sudah berdoa, “Ya Allah, jika sandal saya tertukar, berikanlah tukeran sandal yg lebih baik dari sandal saya sekarang pas jumatan nanti. Kabulkan Doa Baim ya Allah. Amin.”.
Pagi hari di jumat itu, tas semi kerir (baca: carrier) yg saya pinjem dr temen sudah bisa berdiri sendiri tanpa halangan suatu apapun, gara2 tas itu sudah penuh dengan barang2 yg sudah saya jejal-jejalin sejejal-jejalnya pada malam harinya, entah kalo dibuka lagi barang-barang itu sudah jadi apa. sebelumnya, dini hari sekitar jam 1-an, saya mendadak beralih profesi jadi tukang resleting. Hal ini gara-gara resleting di tas tersebut tidak bisa menjalankan tugasnya untuk melindungi dan mengayomi seisi tas dengan baik dan benar. Ada permasalahan teknis dimana salah satu resleting tas itu lepas, dan ada bagian yang patah. Setelah berusaha sekuat tenaga mengerahkan jiwa raga selama sekitar satu jam, akhirnya resleting itu pun bisa berfungsi kembali. Kejadian ini membuat saya tersadarkan, betapa pentingnya benda yang dinamakan resleting. Saya rasa resleting merupakan penemuan paling fenomenal abad ini. SBY atau Obama saja juga pakai resleting di celananya, sulit dibayangkan kegemparan dunia ini kalau resleting di celana mereka tak digunakan atau rusak sehingga terlihat hal-hal yang tak seharusnya terlihat. Tak bisa dipungkiri lagi, resleting memang sangat berguna bagi nusa dan bangsa. Eh, ini kenapa malah bahas resleting! (doh)
Baiklah, mari back to topik saja. Kalau nyolokin colokan listrik yang hati-hati ya, jangan sampai malah resleting. *kriuk* Halah, teteup aja masih resletingan -_-”. Udah-udah, kukut kukut resleting2annya!! (angry_okok)
Jadi kenapa saya peking-peking (baca: packing) tersebut, karena saya ingin menyanyikan lagu jaman kanak-kanak dulu, “naik naik ke puncak gunung gede gede sekali…kiri kanan kulihat saja banyak pohon stlobeli…”(music). Ya, karena saya rencana naik Gunung Gede, bukan Gunung Tinggi, makanya lagunya jadi gitu, berharap ada pohon stlobeli beneran. Hal ini terinspirasi dari sebuah kisah dua tahun silam, tentang sebuah pendakian gunung, dimana tokoh utama dalam kisah itu diperankan oleh saya sendiri. Dua tahun lalu beberapa teman mengajak saya untuk bekpekeran ke gunung Rinjani di Lombok. Karena krisis finansial sedang melanda saya, dimana saat itu uang hasil mengelap keringat belum turun *belom sampe level memeras keringat*, dan sementara saya juga tidak mau meminta uang ke orang tua untuk hal-hal selain kebutuhan hidup dan kuliah, akhirnya saya tak berpartisipasi dalam ekspedisi menggembel dan mengeteng ‘Backpacker Freak Elektro 05′ ke rinjani itu. Melihat foto2 mereka sepulang dari rinjani, timbullah gejolak rasa sesal yang teramat mendalam di dalam dada yang tak pernah hilang hingga sekarang terhadap ketidakikutan itu.
Berawal dari situ, akhirnya saya bertekad untuk tidak mengulangi hal yang sama, dengan cara sebisa mungkin langsung ngomong “YA Banget Cyiin!!” kalau ada yang ngajak naik gunung. Dan akhirnya pun saya langsung meng’iya’kan ajakan naik ke Gunung Gede yang terletak di antara Cianjur dan Bogor, walopun sebenarnya saya tak punya banyak pengalaman dalam dunia pernaikgunungan. Sebelumnya cuma pernah mendaki gunung manglayang sama tangkuban perahu yang ketinggiannya masih icik-icik (adiknya ecek-ecek). Rencana yang ikut naik ada 11 orang, 9 orang anak elektro itb 05 yang 5 diantaranya pernah ke Rinjani dan 2 orang temennya temen, anak UI. 8 orang di antaranya merupakan penghuni ibu kota, 2 orang dari bandung, dan 1 orang dari semarang, diputuskan untuk tidak berangkat bareng-bareng lewat semarang, tapi dari jakarta saja.
Selepas jumatan saya berangkat bersama Doni, temen kosan di bandung sesama mahasiswa bangkotan teman senasib dalam perkuliahan, dan Dafi, pegawai PLN di Semarang yg cukup membuat saya cukup ngeper, karena kalo kita lagi bareng, kegantengannya bisa mematikan pasaran saya (doh). Kita ke Jakarta naik kereta Argo Parahyangan setelah mendapat tiket tanpa tempat duduk. Langsung saja lah menggelar lapak matras di deket pintu kereta dengan sengaja membuka pintu kereta biar ada sensasi semriwingnya dan biar bisa lihat pemandangan sepanjang bandung-jakarta yg cukup lumayan, walopun resiko ditanggung penumpang sih, kalo gak hati2 bisa kelempar keluar. Sempet kepikiran, kayaknya keren juga kalo loncat dari kereta, jadi semacam di pilem-pilem gitu deh. Tadinya pengen gelar slipingbek aja, tp curiga ntar malah dikira mayat2 korban bencana alam bergelimpangan yg dimasukin ke kantung trus dijejerin gitu. Iya kalo dikira mayat, lha kalo dikira trashbag sampah trus dilempar gitu aja dari kereta kan repot juga. Jadinya ya cuma duduk ganteng di emperan pintu sahaja. Enggak ding, sebagai rakyat jelantah yang baik, saya hanya duduk berserakan di pinggir gerbong sahaja. Kereta jalannya sangat labil, kadang lambat kadang cepat, kadang berhenti juga. Jadi curiga kalau ban kereta ini lagi bocor. Mungkin jalannya lagi penuh lubang.
Nyampe Jakarta langsung menuju kosan Rully, seorang karyawan Perusahaan Siemens yg berperan sebagai Pak Kumendan dalam acara trip menggede ini. Di sana sudah ada Dolly, mantan Ketua HME yg punya pengalaman bertarung dengan lebah hutan Kalimantan menggunakan jurus nyemplung lumpurnya. Ada juga yg namanya Kancrid, dialah orang yg paling expert dalam dunia permendakigunungan, dia pernah ke Gede dengan kesaktiannya yg hanya tidur pake sarung di Gede, dan sudah banyak puncak gunung di Jawa yang telah diinjak-injaknya. Kami tinggal bertemu di terminal kampung rambutan dengan Ikhwan si enjinir kreatip yang pernah menjuarai berbagai lomba keelektroan, Candra sang juru kunci listrik ibu kota, Zaki si bos telkomsel, dan dua orang temen Ikhwan yaitu si Alfian dan Odi.
Sabtu, 25 Desember 2010
Dan entah kenapa jam setengah satu malem kita baru bisa ngumpul full team dan tanpa babibu langsung masuk bis jurusan kampung rambutan – tasikmalaya. Tas-tas karir segede gaban dibiarkan teronggok bagai kaleng-kaleng berserakan di sela-sela kursi sampai-sampai ada pedagang asong yang melayangkan saran dan kritik terhadap kami karena tas-tas itu dianggap mengganggu mobilitasnya selama menjajakan barang dagangannya. Tapi karena tas-tas itu teronggok sesuai instruksi kondektur, jadi kamipun cuek bebek peking. Dan sepertinya hampir semua sopir menerapkan prinsip “ngeTime is money”, jadinya di jalan sempet ngetime (baca: ngetem) lama, entah berapa lama, rasanya kaya sekitar empat ratus juta ribu puluh abad. Tau Ah! yang jelas kita nyampe Cibodas jam 3 pagi aja. Dari jalan besar ke Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), kami diantar oleh angkot yang berwarna kuning-kuning.
Sampai sana masih gelap, sambil nunggu subuh kita pun menggelar matras di depan sebuah warung soto, dan teronggok bagai kaleng-kaleng berserakan. *teuteup* Setelah subuhan, kita pun tergeletak berceceran tidur di depan warung itu hingga akhirnya suara pintu warung yang dibuka membangunkan kami. Tau warung dibuka ternyata tak membuat kami merasa tau diri untuk mengusirkan diri kukutan dari depan warung itu, kami justru tetap steikul (baca:stay cool) dengan pose-pose berserakan kami melanjutkan tidur. Tapi akhirnya aroma soto membangunkan kami yang memang sudah lapar jaya, kami pun makan di warung itu.

Untuk masuk TNGGP, para pendaki mesti mengantongi yang namanya SIMAKSI. Saya kepikirannya SIMAKSI itu Surat Ijin Makan Siang, maklum lagi lapar, tapi itu ternyata Surat Ijin Masuk Area Konservasi. Karena sebelumnya kami belum sempat melakukan pendaftaran online di website gedepangrango.org, jadi mesti nunggu kantor TNGGP buka buat dapet SIMAKSI itu, dan konon katanya baru buka jam 9. Belum lagi buat ngurus administrasinya bisa lama, keburu gunungnya kempes mengecil, bukan Gunung Gede lagi tapi jadi Gunung Kecil. Untung aja ada bapak-bapak baik hati dan tidak sombong, yang mau menjadi perantara pengurusan administrasinya, dan per orang cukup membayar 10 ribu kalau gak salah. Bapak-bapak itu semacam jadi pahlawan pembela kebetulan dan keadilan bagi kami. Dengan wajah berseri mewangi sepanjang hari, kami pun memulai melangkahkan kaki yang rata-rata disponsori oleh sendal EIGER.
Kami menuju pos pemeriksaan barang-barang yang konon semua barang yang dibawa bakal dicek satu-satu. Saya hanya mikir, apa gunanya saya sudah packing semaleman kalo akhirnya diudal-udal lagi. Di TNGGP ada peraturan tidak boleh membawa sebangsa sabun-sabunan karena ditakutkan akan digunakan untuk hal yang tidak-tidak. Maksudnya hal-hal yang bisa mencemari lingkungan. Karena saya bawa sabun juga, saya harus siap mengorbankan sabun yang selama ini saya gunakan buat sabunan. *ya eyaa laah, masak dimakan*. Hal ini karena rencananya kita naik dari Cibodas dan turun lewat Gunung Putri, jadi kalo sabun udah ditahan, gila aja kalo mau ambil lagi di Cibodas. Di sini juga tidak boleh bawa senjata tajam yang panjangnya lebih dari 15 cm. Dan tidak dinyana-nyana, ternyata ada salah satu anggota rombongan kami yang bawa golok gede dengan panjang lebih dari 15 cm. Mungkin dia belum pernah baca novel 5 cm yang konon menginspirasi banyak pendaki gunung, jadi dia tidak terinspirasi untuk bawa golok yang panjangnya hanya 5 cm. Golok inilah yang akhirnya jadi pengubah rencana kami semula. Goloknya terlalu bagus buat dikorbankan kalau turun lewat Putri, akhirnya pun kita memutuskan buat balik lagi turun lewat Cibodas biar bisa ambil goloknya lagi.

Dan gosip yang menyebutkan bakal ada pemeriksaan barang satu-satu itu ternyata hoax, benarlah karena tidak ada pic-nya juga sebelumnya, nopic = hoax. Akhirnya tanpa mengudal-udal tas lagi, kita memulai menapaki jalan bebatuan yang cukup bagus. Terinspirasi dari Cinta Fitri yang bersambung terus gak habis-habis, tentang kisah perjalanan mendaki sampai puncak, akan ditayangkan pada episode selanjutnya.
Bersambung….
kamu punya jobdesk…ntr nganter aku kesini…:D
tergantung bayarannya berapa (money) (bringit) (evilsmirk)