Sabtu, 25 Desember 2010
Cinta Fitri masih memberi inspirasi bagi saya untuk melanjutkan episode kisah perjalanan menuju puncak Gede. Miska memang jahat sih, tapi perjalanan menuju puncak tetep must go on. Oke, biar Cinta Fitri banget, mari flashback dulu ke episode sebelumnya. Di episode sebelumnya diceritakan bahwa para “bekpeker frik” (baca:backpacker freak) calon penginjak puncak gede masih berada di pos pemeriksaan setelah menyerahkan ke petugas segala macam bentuk sabun-sabunan yang cukup membahayakan bagi kelangsungan hidup para pendaki,kalau sabunnya dimakan. Sekarang saatnya melangkahkan kaki yang disponsori sendal Eiger menuju puncak kemilau cahaya mengukir cita seindah asa, menuju puncak impian sejati bersatu janji kawan sejati. *obsesi jadi bintang AFI mas?*
Di deket pos pemeriksaan itu, terdapat papan berisikan berisikan peraturan yang harus dipatuhi pendaki, semacam tidak boleh merusak dan mencemari lingkungan, tidak boleh membuat api unggun, tidak boleh memetik edelweis, dan berbagaimacam ketidakbolehan lain. TNGGP ini peraturannya memang bejibun, sebanyak-banyak dosa Firaun. Untung aja tidak ada peraturan yang menyebutkan bahwa para pendaki tidak boleh bermuka hancur, atau tidak boleh berstatus mahasiswa bangkotan, kalau ada sudah pasti kalah sebelum bertanding, mentok nyampe pos pemeriksaan doang.
Di situ juga ada peta jalur pendakian kaya yang ada di gambar ini.

Melihat peta itu, rasanya gembira tiada tara, bukan karena nyampe puncak tinggal ngesot doang, tapi gara-gara ada shelter-shelter di jalur tersebut. Saya pun berharap shelter-shelter ini merupakan shelter busway yang bisa langsung membawa kami ke puncak, mungkin ini koridor yang baru dibuka. Kami pun cepat-cepat berjalan melewati jalanan berbatu yang tersusun rapi untuk menuju shelter pertama berharap kita bisa nunggu busway di sana. Dan ternyata kami mendapatkan zonk pemirsa, shelter busway itu hanya angan-angan belaka, ternyata yang namanya shelter itu cuma semacam bangunan kecil buat istirahat. Lagian siapa juga yang mau buat koridor busway di sana.
Kami pun harus menusuri jalan yang masih tersusun rapi dari batu itu, yang sambil merem pun bisa sampai, merem mata kakinya. Di pinggir jalan ada yang namanya Telaga Biru, semacam telaga yang konon airnya berwarna biru. Tapi pas saya lihat, airnya tidak biru-biru amat, tp biru kehijau-hijauan. Birunya seperti udah luntur, pewarnanya pake pewarna KW kayaknya. Sepanjang jalan cukup terheran-heran melihat kostum para pengunjung gunung Gede ini. Banyak yang ke sana bawa badan doang, sendal/sepatu pun banyak yang berupa sendal/sepatu jeng-jeng ke mall. Jadi mikir jangan-jangan gunung Gede ini sebenarnya adalah suatu Mall yang cukup besar dan ramai. Yang datang banyak sekali dari kalangan pasangan muda-mudi yang sepertinya lagi dimabok Ce-I-En-Te-A, anak-anak kecil yang belum bisa nyentuh telinganya sendiri dan pipis aja belum lurus., dan sepertinya juga ada kakek-nenek yang kenya sudah tua dan giginya tinggal dua Jadi merasa salah kostum banget bawa tas-tas segede gambreng dan pake sendal trekking yang dipersembahkan Eiger. *iklan dulu lagi, biar kaya Cinta Fitri*. Sampai shelter Panyangcangan baru nyadar kalau orang-orang yang saya kira mau laundry mata di mall itu ternyata mau ke air terjun Cibeureum yang letaknya 300 meter dari shelter. Di shelter ini pula jalan rapi yang tak terlalu menanjak ini berakhir buat para pendaki puncak karena kalau ke puncak mesti belok kiri. Kita tidak langsung ke Cibeureum *ini nama air
terjun susah banget ngucapinnya deh* soalnya mesti menyimpang dari jalur utama ke puncak, jadi mau langsung muncak saja.
Dan babak baru pendakian dimulai, jalan pun sudah mulai tidak manusiawi lagi. Jalur pendakian berupa jalan setapak yang terbuat dari tanah yang kadang landai tapi sering juga menanjak. Tanjakan juga sudah didesain sedemikian rupa sehingga jalannya tidak menurun. Untung saja pas tanjakan ada batu-batu loncatan yang didesain buat para kutu loncat pendaki yang hobi meloncat di tanjakan. Karena saya hanya rakyat jelalatan jelantah, saya menggunakan batu-batu itu untuk pijakan sahaja, biar gak terpeleset pas nanjak. Di jalan ini henpon mulai tak terlalu berguna karena sinyal mulai sakaratul maut dan perlahan menemui ajalnya. Penonton kecewa berat, padahal pengen nulis di plurk, twitter atau FB, “lagi nanjak bawa tas berat nich! gak bisa fesbukan” atau “lagi sibuk naik gunung nich! gak bisa apdet status” *jangan lupa nih-nya pake ch* Akhirnya saya hanya berharap Zaki si calon bos telkomsel lain kali mencangking BTS kalo mau mendaki lagi dan juga berharap ke candra sama dafi calon bos PLN untuk menenteng kabel listrik pas mendaki lagi atau membuat pembangkit listrik tenaga dalam.
Benarlah kalau dibilang lebih baik mendaki gunung itu bulan april sampai november, soalnya desember seperti ini hujan sering melanda, bahkan ada badai menghadang. Tapi walau badai menghadang ingatlah ku kan selalu setia menjagamu berdua kita lewati jalan yang berliku tajam. Eh, jadi kaya ada band aja, padahal di gunung tidak ada band. Ya, di jalan kami sempet kehujanan, tapi karena kesaktian kami dalam menggunakan jurus ponco, kami tetap bisa bertahan tanpa terlalu basah.
Setelah beberapa jam jalan melewati jalur yang gampang-gampang susah, *atau susah-susah gampang ya? (unsure)* akhirnya kita menjumpai suatu fenomena menarik dan langka yang disebut “Air Panas”. Jadi ada semacam tebing yang mengeluarkan air yang suhunya cukup panas, kaya air di tremos gitu. Dan air panas itu mengalir melewati satu-satunya jalur pendakian di situ. Yang lebih mengerikan lagi, bagian kanan jalur itu adalah sebuah jurang yang sangat dalam, sementara bagian kirinya tebing. Jadi tidak ada pilihan lain kecuali melewati air panas sepanjang sekitar 15 meter dengan lebar jalur hanya sekitar 1 meter dan berasap tebal mengaburkan pandangan. Salah melangkah saja atau kaget terkena air panas pas jalan, taruhannya nyawa, bisa nyemplung jurang. Untungnya sudah ada tali di bagian yang dekat jurang sehingga pendaki bisa berpegangan pada tali tersebut saat jalan. Ada batu-batu buat pijakan juga walaupun tetap saja kena air panasnya yang memang cukup panas. Lega rasanya setelah bisa melewati fenomena aneh yang sepertinya hanya bisa dijumpai di gunung gede ini, mantap jaya sentosa lah! Buat yang mau minum kopi tapi malas rebus air, air panas ini bisa jadi alternatif untuk ngopi, malahan kopinya jadi tambah berasa, rasa belerang.
Setelah lewat air panas, di pinggir jalan kami menemukan sungai yang ada semacam air terjun mini nya. Melihat ini spot bagus buat ajang menyalurkan obsesi kami sebagai foto model majalah bobo, kontan saja kami turun untuk foto-foto di situ. Tapi begitu masuk airnya, kaki serasa dianiaya, sakit, membeku. ini sih sepertinya air es yg lagi mencair. Kalau mau bikin es jus jeruk tinggal meres jeruk aja di sungai ini, tuangin gula dikit udah jadi. Seperti yin dan yang, tadi ada aliran air sepanas auramu, kini ada aliran air sedingin hatimu. *haiah, apa pula ini* .

Selesai menarsiskan diri, kami pun melanjutkan perjalanan hingga sampai di posko Kandang Batu. Aneh juga namanya, batu kok dikandang, kaya mau lari aja batunya, emangnya kamu yang terus lari-lari di pikiranku. #eaaa. Ada beberapa tenda di sini, sepertinya memang tempat camp, tapi rada gelap tempatnya, sempit pula, gak terlalu asik buat ngecamp. Akhirnya diputuskan untuk ngecamp di posko selanjutnya saja, Kandang Badak, yang kami tempuh selama satu setengah jam dari kandang batu. Di Kandang Badak cukup banyak berceceran tenda di sana sini, tempatnya juga lebih luas, rimbun tapi tidak gelap, ada aliran air pula. Akhirnya di sinilah kita mengonggokkan diri istirahat setelah sekitar 6 jam lebih mengesot-ngesot dari cibodas. Awalnya kami tidak mendapatkan kapling buat tenda, penuh, tp entah kenapa begitu kami datang, orang-orang banyak yang kukukan lapak tendanya buru-buru melarikan diri. Kami memang tampang preman kampung, tapi hati kami hello kitty kok, harusnya tak perlu takut.
Hal yang pertama kami lakukan pun nyalain kompor dan masak nasi, sarden dan mie instan yang merupakan makanan default mendaki gunung. Penderitaan tanpa sinyal henpon kami rasakan kembali, karena sebenarnya kami pengen telpon 14045 pesen delivery service burger atau ayam aja daripada repot2 masak, sayang gak ada sinyal buat nelpon. Tapi ya sudah, akhirnya kami makan hasil masakan tersebut, sebagaimana prinsip kami,”kumpul gak kumpul asal makan”.

Oh maaf kelewat, hal pertama yang kami lakukan di kandang badak ternyata adalah mencari-cari dimana badaknya. Secara namanya Kandang Badak. Kami hanya berharap badak itu tidak lepas dan mencuri makanan yang kami bawa. Dan itu kenapa kami butuh sinyal, kalau makanan direbut badak, kami bisa telpon MekDi atau KeEfSi. Tapi ternyata badak itu hanyalah hoax, tak ditemui sebiji badak pun. Yang ada hanyalah kami yang bermuka badak godain kalau ada mbak-mbak yang lewat, nyanyi-nyanyi rayuan gombal. Ya beginilah nasib pendaki yang hampir semuanya laki-laki tuna asmara, bahkan Tuna Asmara-nya sudah sejak dalam kandungan. *curcol* Ada makhluk yang beda varietas lewat saja langsung heboh. Untung gak kena gampar sendal Eiger si mbak-mbaknya.
Adegan selanjutnya adalah mendirikan tenda. Kami membawa 3 buah tenda dimana salah satunya saya yang menyewa seharga 25 ribu perhari. Ada satu tenda yang cukup besar yang dibawa teman saya, dengan kapasitas 8-10 orang. Karena malas mendirikan banyak tenda, diputuskan mendirikan satu tenda itu saja untuk 11 orang. Dan benarlah, pada malam harinya, ke-11 orang itu bertumpuk undung tidur dalam satu tenda saja. Alhasil mau gerak saja susah, posisi tidur juga sudah antah berantah, yang muka ketemu sama kaki lah, yang tidak bisa meluruskan kaki lah. Kalau ada yang maho bakal seneng banget lah dengan tidur yang seperti ini, tapi eyke bukan maho boo’, apalagi bencong, enggak banget deh cyiin! Ketidaknyamanan tidur seperti ini menyebabkan satu orang harus tereliminasi dari ajang perebutan lapak tidur ini dan memilih menggelar slipingbek di luar tenda.
Kami rencana bangun jam setengah 3 biar jam 3 bisa langsung melakukan summit attack dari Kandang Badak ke puncak yang berjarak 2,5 jam. Entah kenapa mendaki puncak biar dapat sunrise ini namanya summit attack. Jadi berpikir di atas ada KFC yang jual paket attack. Tp nenek-nenek yang giginya tinggal dua dan mau mati besok aja juga tau kalau KFC kayaknya tak bakal buka lapak di puncak gunung gede. Satu orang yang namanya Kancrid menyarankan biar ke puncaknya tidak usah membawa tas, dan dia siap menjaga barang-barang bawaan kami di kandang badak. Karena dia sebelumnya sudah pernah ke puncak gede, jadi dia tidak masalah tidak ikut muncak lagi. Dia bilang yang dia cari adalah kebersamaan bersama kami, bukan puncak. *terharu mengharu hijau*
Sepertinya waktu episode ini sudah habis, kita lanjutkan kisahnya di episode selanjutnya saja. Sebagai spoiler, episode depan akan diceritakan tentang summit attack, keindahan puncak, surya kencana, hingga ceritanya tamat.
Bersambung… *jeng jeng!*
pertamax gan….
ntar ya bacanya…mau ninggalin meja duyu….*dadah dadah*
wew… seru nih keknya. ga sabar nunggu cerita berikutnya
nice one nggar