Mohon maaf pemirsa, episode terakhir kisah pendakian Gunung Gede penayangannya harus tertunda cukup lama. Bukan gara-gara gunung Gede-nya tiba2 pindah menjelang saya nulis episode 3, atau tiba2 gunungnya tertukar *emangnya sinetron, ada Gunung Yang Tertukar*, gunungnya masih betah buka lapak di Jawa Barat kok. Masalahnya ada pada saya sebagai pemeran utama, tiba-tiba saya tersadarkan oleh sebuah ayat palsu yang palsunya sampai tujuh turunan, tp isinya bener jg, yang berbunyi “Barangsiapa di antara kamu telah menjadi mahasiswa tingkat akhir plus plus, bersegeralah untuk menyelesaikan apa yang telah menjadi tugas akhir bagimu, niscaya kamu akan segera merasakan wisuda. Dan jika kamu wisuda tanpa pewe, maka itu sudah menjadi nasibmu“. Sebagai konsekuensi dari keyakinan saya terhadap ayat tersebut, saya pun harus lebih banyak meninggalkan dunia maya untuk menghadapi dunia luna, termasuk dalam masalah perbloggingan. Pada akhirnya saya berhasil menyelesaikan tugas akhir dan saya lulus lolos dalam sidang kasus pencabulan nenek-nenek di bawah umur tugas akhir saya. Alhamdulillah sekarang udah ST 12.
Baiklah, sekarang kita lanjutkan saja ceritanya, flashback dulu ke episode sebelumnya ya, disebutkan bahwa kami lagi di kandang badak dan bersiap untuk summit attack. Sekali lagi saya tegaskan, summit attack ini bukannya mau nyuci puncak gunung pake deterjen attack, tp mau mendaki puncak pagi2 sebelum subuh biar dapet sunlight sunrise. Karena ada seorang temen yang berkorban buat gak ikut muncak dan milih jagain tenda, kami pun tidak bawa tas kerir naiknya, cukup bisa mempermudah perjalanan.
Jam 3 pun kami bangun tidur gak pake terus mandi, gosok gigi, apalagi menolong ibu. Lagian Ibu gak ikutan naik gunung juga kalee. Kami tentu saja sudah siap2 senter yang kami gunakan untuk menerangi jalan kami agar kami senantiasa berada pada jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang diberi nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan pula orang yang tersesat. *eh? kaya alfatihah ya* Akhirnya kami berangkat pukul tiga setengah (03:30), melewati jalan setapak yang gara2 kemarin ujan dan gak ada ojek, jadi ada yang masih becek. Tapi itu tak menyurutkan niat kami, terinspirasi dari novel 5 cm, “biarkan keyakinanmu mengambang 5 cm menggantung di depan keningmu, setelah itu yang kamu perlukan cuma kaki yang melangkah lebih jauh dari biasanya…..” tapi selain menginspirasi, novel itu bisa menyesatkanmu, karena kalau kamu ingin tahu keyakinanmu dengan terus mencoba melihat yang mengambang 5 cm di depan keningmu, yang ada kamu bakal kesandung batu dan kepalamu benjut kebentur pohon. Tetap harus lihat jalan.
Pagi-pagi itu pun kami mencoba menelusuri jalan setapak berbatu yang perlahan mulai menanjak. Berhati-hatilah kalau berjalan gelap-gelap begini, walaupun sudah fokus dengan jalan setapaknya, tp ternyata kepala bisa benjut juga kena pohon yang melintang di tengah jalan *curcol*. Awal-awal jalur masih seperti sebelumnya, vegetasi masih beragam, hingga akhirnya sampai pada sebuah tanjakan yang dinamakan tanjakan setan. Tadinya kirain ini tanjakan tempat para setan seperti @poconggg si jomblo ngenes itu pada hangout gelar lapak, jadi udah mempersiapkan diri dengan jurus andalan yaitu jurus langkah seribu kalau ketemu. Ternyata tanjakan setan ini hanyalah sebuah tanjakan yang cukup curam dan licin, dan sebelah kirinya adalah jurang menganga yang menunggu mangsa jatuh ke mulutnya. Untung saja di situ sudah ada tali berupa tambang yang bisa digunakan untuk tarik tambang atau jemuran pegangan buat para pendaki. Memang salah satu bagian tersulit dari jalur Cibodas, akan tetapi setelah melewatinya menimbulkan perasaan lega seperti saat kita habis buang air besar.
Setelah tanjakan setan ini, vegetasi yang ditemui sudah berbeda, dipenuhi oleh satu jenis tanaman yang entah pohon apa, dan tidak lagi ditemui mata air. Karena udah mulai agak terang, kita pun subuhan di tengah perjalanan, di pinggir jalan. Untung ada yang bawa kompas, jadi kita bisa tahu berita terbaru arah kiblat sebelah mana. Aroma belerang pun semakin kuat tercium, sebuah momen yang tepat untuk melepaskan gas dalam perut tanpa ada rasa dosa, tapi jangan lupa tetap disilent dan harus pinter-pinter memfilter biar ampasnya juga gak keluar. Dan tak berapa lama akhirnya kami tiba di puncak.
Hal yang pertama kali kami khawatirkan sebenarnya adalah ketika tiba-tiba kami menemui mang-mang yang nawarin villa, “Aa’ villa a’ villa a’.. “. Karena itu berarti puncak yang kami capai adalah puncak yang di Bogor. Sia-sia sudah perjalanan kami kalau udah capek-capek ngesot-ngesot selama berjam-jam, nyampenya puncak Bogor yang tinggal duduk manis di mobil udah sampe. Untung saja kekhawatiran kami tak terbukti, kami benar-benar sampai di puncak Gunung Gede, dan terlihat dengan jelas di sebelahnya ada Gunung berbentuk kerucut, itulah Gunung Pangrango.
Ternyata target kami untuk melihat detik-detik kemunculan sunrise tak terpenuhi, matahari udah sedikit meninggi. Padahal tadinya udah siap-siap teriak kenceng “bersih bersinaar… sunrise!” Tapi yasudahlah…, apapun yang terjadi kukan slalu ada untukmu.
Malam hari memang sudah makan, tapi naik dari Kandang Badak ke Puncak seperti membuat lapar perut tak bisa ditolerir lagi. Kami tak menemukan ada warung tegal atau nasi padang di puncak. Mau pesen Pizza Hut juga gak tau gimana cara. Namun ternyata di atas ada penjual nasi uduk. Ya, ada penduduk sekitar yang pekerjaannya tiap pagi membawa nasi uduk dari bawah dan dijual di puncak. Harga sebungkus 5 ribu, tp porsinya sedikit sekali, seukuran nasi kucing yang dijual di angkringan jogja. Tapi ya wajar lah ya harga segitu, mengingat effort yang dikeluarkan penjual nasi uduk itu. Kami pun merasa beruntung bisa makan nasi uduk yang masih anget di puncak gunung sebagaimana bapak-bapak tersebut mungkin juga mendapat keuntungan. Saling menguntungkan begini, kalau bahasa biologinya kalau gak salah Simbiosis Mutual Friend.
Puncak Gede ini berupa sebuah lereng sempit yang memanjang mengelilingi sebuah kawah yang airnya berwarna kehijauan, cukup indah, sayang airnya kurang banyak. Tapi jangan berpikir kalau semua pengunjung mau pipis di kawah itu, airnya bakal tambah banyak, gunung gede bukan toilet umum juga kaleee.
Subhanallah, pemandangan dari puncak gede benar-benar membuat kita tertegun. Jadi merasa kita tak ada apa-apanya dibandingkan semesta ini, apalagi dibandingkan penciptanya. Dan di sinilah kita harus menyadari, sesungguhnya naik gunung bukanlah menaklukkan puncak, bukan menaklukkan alam, tapi sebenarnya adalah menaklukkan diri kita sendiri, menaklukkan ego kita, karena di atas sana kita jadi menyadari betapa kecil dan lemahnya kita dibandingkan dengan hamparan semesta. *hening*
Sebagai tetangga terdekat dari Gede, sepertinya gunung Pangrango juga perlu diekspos. Pangrango sedikit lebih tinggi dari Gede dan mempunyai bentuk kerucut, berbeda dengan gede yang memanjang seperti tangkuban perahu. Waktu itu, pangrango lagi pakai topi dari awan, lucu juga.
Fitur yang ditawarkan oleh Gunung Gede tidak terbatas sampai di sini, ada satu lagi yang cukup mempesona, sebuah padang rumput yang banyak ditumbuhi pohon-pohon edelweis yang disebut-sebut sebagai Surken. Selidik punya selidik ternyata Surken ini merupakan singkatan dari kata Suara Kentut Surya Kencana. Entah kenapa dinamakan seperti itu, apakah gara-gara dulunya sering dipakai sama orang yang bernama Surya kencan atau gimana kurang tahu juga. Surken ini terletak di bawah puncak gede, diapit oleh gunung gede dan sebuah bukit. Dari atas puncak gede terlihat seperti Gambar 3.1. *kok jadi berasa TA ya*
Untuk mencapai surken ini, dari puncak Gede bisa menggelindingkan diri turun melewati jalur berbatu yang cukup terjal dibandingkan jalur pas naik tadi. Inilah jalur yang ditempuh untuk mencapai puncak gede jika berangkat dari gerbang Gunung Putri. Kami pun turun melewati jalur tersebut dengan pelan tapi tidak pasti, bingung kenapa gak nyampe-nyampe. Dan di tengah jalan kami dibikin bengong oleh orang yang disinyalir merupakan penjual nasi uduk yang tadi kami beli. Bapak-bapak itu seolah-olah sedang joging menuruni jalur tersebut, cepet banget turunnya, sementara kami harus ngesot-ngesot semacam siput yang lagi cacingan. Melihat aksi bapak tersebut, saya pun gak mau kalah sama bapak tersebut dengan mencoba sedikit lari saat turun. Perlu diketahui, untuk masalah lari2an, saya jagonya, saya juara lari tingkat keluarga. Tapi itu juara lari dari kenyataan. Setelah nyoba lari di turunan terjal tersebut, bukannya nyampe dengan cepat, tapi dengkul saya yang harus berciuman sama batu gara2 kepleset. Sakit sih, walaupun sakit dengkul tidak lebih sakit dari sakit hati. Dasar dengkul bego gak punya otak, udah tau batu, main cium-cium aja. Setelah hampir satu jam, akhirnya kami pun sampai di padang rumput Surya Kencana tersebut.
Benar-benar menakjubkan, ada padang rumput yang memanjang sejauh 2 km, diapit bukit yang tanamannya terlihat rapi, dan di bagian pinggir-pinggirnya dipenuhi pohon edelweis yang terlihat cantik. Di bagian tengah padang tersebut terdapat aliran sungai mini yang airnya cukup bersih, bahkan ketika diminum langsung, rasanya mirip kaya Aqua. Walopun biasanya aqua sepaket sama mijon (baca:mizone), tapi yang rasa mijon di sini kagak ada sih. Hembusan angin dan cakrawala indahnya semakin membuat tak ingin beranjak dari situ. Ingin rasanya tidur pulas di tengah rerumputan tadi. Benar-benar taman alami yang sangat nyaman.
Di surya kencana ini juga merupakan pos untuk mendirikan tenda. Hal ini bisa dilihat di sekitar aliran air tersebut terdapat cukup banyak tenda. Akan tetapi konon ketika malam hari angin di sini sangat dingin, jadi mesti siap-siap kalau tidur di sini. Jangan coba-coba cuma pake kolor sarung doang, harus pake sliping bag.
Setelah berpuas-puas di surken, kami pun kembali naik ke puncak gede lewat jalan yang tadi, karena kami harus balik lagi ke cibodas. Dan jalur yang agak terjal ini memang cukup menyiksa, walaupun akhirnya sampai juga. Sekitar jam 11, dari puncak kami pun turun ke Kandang Badak, tempat camp kami. Teman yang tidak ikut naik ke puncak ternyata sudah memasak makanan untuk kami. Ya, dengan menu default naik gunung, yaitu nasi + mie instant + sarden.
Setelah makan kami pun beres-beres tenda dan perlengkapan untuk turun. Dan sebelum turun ternyata kami harus meninggalkan oleh-oleh buat gunung gede berupa sisa metabolisme pencernaan makanan. Agak parah juga, oleh-oleh itu dibiarkan mengalir bersama aliran air yang ada di situ. Entah kalau di bawah ada yang pakai air itu, mungkin bisa dapat jackpot dari kami.
Kami pun turun melewati jalur yang sama dengan yang kemarin dilewati, dan setelah beberapa jam akhirnya sampai ke pos Panyancangan dan mampir ke air terjun Cibeureum. Saya, Dolly, dan Dafi akhirnya mencoba nyebur ke air terjun dan mencoba rasanya berdiri persis di tempat air jatuh sambil teriak. Puas di situ, akhirnya kami meneruskan perjalanan sampai gerbang Cibodas kembali. Sampai Cibodas sekitar jam 5 sore. Ternyata sabun yang saya titipkan kemarin dibalikin lagi, lumayan lah daripada mesti beli lagi.
Kami pun beres-beres dan pulang. Yang ke arah Jakarta langsung naik bis jurusan kampung rambutan, sedangkan saya, Doni dan Dafi pulang ke Bandung lewat Cianjur, naik bis jurusan Cianjur-Bandung. Dan beruntung sekali bis nya ada tipinya, sehingga bisa nonton Final Piala AFF waktu itu, sayangnya Indonesia kalah 0-3 dari Malaysia. Dan akhirnya kami sampai kos jam 10an. Sungguh perjalanan yang mengasikkan.










