<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hanya Rakyat Jelantah Yang Teronggok Bagai Kaleng Berserakan</title>
	<atom:link href="http://enkz.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://enkz.wordpress.com</link>
	<description>lapak catatan perjalanan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Mar 2011 10:19:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='enkz.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hanya Rakyat Jelantah Yang Teronggok Bagai Kaleng Berserakan</title>
		<link>http://enkz.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://enkz.wordpress.com/osd.xml" title="Hanya Rakyat Jelantah Yang Teronggok Bagai Kaleng Berserakan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://enkz.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Gunung Yang Tidak Kecil Itu Gunung Gede (Episode 3)</title>
		<link>http://enkz.wordpress.com/2011/02/25/gunung-yang-tidak-kecil-itu-gunung-gede-episode-3/</link>
		<comments>http://enkz.wordpress.com/2011/02/25/gunung-yang-tidak-kecil-itu-gunung-gede-episode-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Feb 2011 19:58:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enkz</dc:creator>
				<category><![CDATA[gunung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enkz.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Mohon maaf pemirsa, episode terakhir kisah pendakian Gunung Gede penayangannya harus tertunda cukup lama. Bukan gara-gara gunung Gede-nya tiba2 pindah menjelang saya nulis episode 3, atau tiba2 gunungnya tertukar *emangnya sinetron, ada Gunung Yang Tertukar*, gunungnya masih betah buka lapak &#8230; <a href="http://enkz.wordpress.com/2011/02/25/gunung-yang-tidak-kecil-itu-gunung-gede-episode-3/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=enkz.wordpress.com&amp;blog=1063333&amp;post=74&amp;subd=enkz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Mohon maaf pemirsa, episode terakhir kisah pendakian Gunung Gede penayangannya harus tertunda cukup lama. Bukan gara-gara gunung Gede-nya tiba2 pindah menjelang saya nulis episode 3, atau tiba2 gunungnya tertukar *emangnya sinetron, ada Gunung Yang Tertukar*, gunungnya masih betah buka lapak di Jawa Barat kok. Masalahnya ada pada saya sebagai pemeran utama, tiba-tiba saya tersadarkan oleh sebuah ayat palsu yang palsunya sampai tujuh turunan, tp isinya bener jg, yang berbunyi &#8220;<em>Barangsiapa di antara kamu telah menjadi mahasiswa tingkat akhir plus plus, bersegeralah untuk menyelesaikan apa yang telah menjadi tugas akhir bagimu, niscaya kamu akan segera merasakan wisuda. Dan jika kamu wisuda tanpa pewe, maka itu sudah menjadi nasibmu</em>&#8220;. Sebagai konsekuensi dari keyakinan saya terhadap ayat tersebut, saya pun harus lebih banyak meninggalkan dunia maya untuk menghadapi dunia luna, termasuk dalam masalah perbloggingan. Pada akhirnya saya berhasil menyelesaikan tugas akhir dan saya <del>lulus</del> lolos dalam sidang <del>kasus pencabulan nenek-nenek di bawah umur </del> tugas akhir saya. Alhamdulillah sekarang udah ST <del>12.<span id="more-74"></span></del></p>
<p style="text-align:justify;">Baiklah, sekarang kita lanjutkan saja ceritanya, flashback dulu ke episode sebelumnya ya, disebutkan bahwa kami lagi di kandang badak dan bersiap untuk summit attack. Sekali lagi saya tegaskan, summit attack ini bukannya mau nyuci puncak gunung pake deterjen attack, tp mau mendaki puncak pagi2 sebelum subuh biar dapet <del>sunlight</del> sunrise. Karena ada seorang temen yang berkorban buat gak ikut muncak dan milih jagain tenda, kami pun tidak bawa tas kerir naiknya, cukup bisa mempermudah perjalanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jam 3 pun kami bangun tidur gak pake terus mandi, gosok gigi, apalagi menolong ibu. Lagian Ibu gak ikutan naik gunung juga kalee. Kami tentu saja sudah siap2 senter yang kami gunakan untuk menerangi jalan kami agar kami senantiasa berada pada jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang diberi nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan pula orang yang tersesat. *<em>eh? kaya alfatihah ya</em>* Akhirnya kami berangkat pukul tiga setengah (03:30), melewati jalan setapak yang gara2 kemarin ujan dan gak ada ojek, jadi ada yang masih becek. Tapi itu tak menyurutkan niat kami, terinspirasi dari novel 5 cm, &#8220;biarkan keyakinanmu mengambang 5 cm menggantung di depan keningmu, setelah itu yang kamu perlukan cuma kaki yang melangkah lebih jauh dari biasanya&#8230;..&#8221; tapi selain menginspirasi, novel itu bisa menyesatkanmu, karena kalau kamu ingin tahu keyakinanmu dengan terus mencoba melihat yang mengambang 5 cm di depan keningmu, yang ada kamu bakal kesandung batu dan kepalamu benjut kebentur pohon. Tetap harus lihat jalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pagi-pagi itu pun kami mencoba menelusuri jalan setapak berbatu yang perlahan mulai menanjak. Berhati-hatilah kalau berjalan gelap-gelap begini, walaupun sudah fokus dengan jalan setapaknya, tp ternyata kepala bisa benjut juga kena pohon yang melintang di tengah jalan *<em>curcol</em>*. Awal-awal jalur masih seperti sebelumnya, vegetasi masih beragam, hingga akhirnya sampai pada sebuah tanjakan yang dinamakan <strong>tanjakan setan</strong>. Tadinya kirain ini tanjakan tempat para setan seperti @poconggg si jomblo ngenes itu pada hangout gelar lapak, jadi udah mempersiapkan diri dengan jurus andalan yaitu jurus langkah seribu kalau ketemu. Ternyata tanjakan setan ini hanyalah sebuah tanjakan yang cukup curam dan licin, dan sebelah kirinya adalah jurang menganga yang menunggu mangsa jatuh ke mulutnya. Untung saja di situ sudah ada tali berupa tambang yang bisa digunakan untuk <del>tarik tambang atau jemuran</del> pegangan buat para pendaki. Memang salah satu bagian tersulit dari jalur Cibodas, akan tetapi setelah melewatinya menimbulkan perasaan lega<del> seperti saat kita habis buang air besar.</del></p>
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:justify;">
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/167462_1800736025097_1440712490_31970400_2900604_n.jpg"><img class="size-full wp-image-81 " title="tanjakan setan" src="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/167462_1800736025097_1440712490_31970400_2900604_n.jpg?w=640" alt="tanjakan setan"   /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">tanjakan setan</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align:justify;">Setelah tanjakan setan ini, vegetasi yang ditemui sudah berbeda, dipenuhi oleh satu jenis tanaman yang entah pohon apa, dan tidak lagi ditemui mata air. Karena udah mulai agak terang, kita pun subuhan di tengah perjalanan, di pinggir jalan. Untung ada yang bawa kompas, jadi kita bisa tahu <del>berita terbaru</del> arah kiblat sebelah mana. Aroma belerang pun semakin kuat tercium, sebuah momen yang tepat untuk melepaskan gas dalam perut tanpa ada rasa dosa, tapi jangan lupa tetap disilent dan harus pinter-pinter memfilter biar ampasnya juga gak keluar. Dan tak berapa lama akhirnya kami tiba di puncak.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang pertama kali kami khawatirkan sebenarnya adalah ketika tiba-tiba kami menemui mang-mang yang nawarin villa, &#8220;Aa&#8217; villa a&#8217; villa a&#8217;.. &#8220;. Karena itu berarti puncak yang kami capai adalah puncak yang di Bogor. Sia-sia sudah perjalanan kami kalau udah capek-capek ngesot-ngesot selama berjam-jam, nyampenya puncak Bogor yang tinggal duduk manis di mobil udah sampe. Untung saja kekhawatiran kami tak terbukti, kami benar-benar sampai di puncak Gunung Gede, dan terlihat dengan jelas di sebelahnya ada Gunung berbentuk kerucut, itulah Gunung Pangrango.</p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata target kami untuk melihat detik-detik kemunculan sunrise tak terpenuhi, matahari udah sedikit meninggi. Padahal tadinya udah siap-siap teriak kenceng &#8220;bersih bersinaar&#8230; sunrise!&#8221; Tapi yasudahlah&#8230;, apapun yang terjadi kukan slalu ada untukmu.</p>
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:justify;">
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/162613_1800738665163_1440712490_31970408_4319740_n.jpg"><img class="size-full wp-image-82 " title="sunrise gede" src="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/162613_1800738665163_1440712490_31970408_4319740_n.jpg?w=640" alt="sunrise gede"   /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">sunrise gunung gede</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align:justify;">Malam hari memang sudah makan, tapi naik dari Kandang Badak ke Puncak seperti membuat lapar perut tak bisa ditolerir lagi. Kami tak menemukan ada warung tegal atau nasi padang di puncak. Mau pesen Pizza Hut juga gak tau gimana cara. Namun ternyata di atas ada penjual nasi uduk. Ya, ada penduduk sekitar yang pekerjaannya tiap pagi membawa nasi uduk dari bawah dan dijual di puncak. Harga sebungkus 5 ribu, tp porsinya sedikit sekali, seukuran nasi kucing yang dijual di angkringan jogja. Tapi ya wajar lah ya harga segitu, mengingat effort yang dikeluarkan penjual nasi uduk itu. Kami pun merasa beruntung bisa makan nasi uduk yang masih anget di puncak gunung sebagaimana bapak-bapak tersebut mungkin juga mendapat keuntungan. Saling menguntungkan begini, kalau bahasa biologinya kalau gak salah Simbiosis Mutual Friend.</p>
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:justify;">
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/163712_1800744385306_1440712490_31970424_1302412_n.jpg"><img class="size-full wp-image-83 " title="nasi uduk puncak gede" src="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/163712_1800744385306_1440712490_31970424_1302412_n.jpg?w=640" alt="nasi uduk puncak gede"   /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">makan nasi uduk di puncak gede</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align:justify;">Puncak Gede ini berupa sebuah lereng sempit yang memanjang mengelilingi sebuah kawah yang airnya berwarna kehijauan, cukup indah, sayang airnya kurang banyak. Tapi jangan berpikir kalau semua pengunjung mau pipis di kawah itu, airnya bakal tambah banyak, gunung gede bukan toilet umum juga kaleee.</p>
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:justify;">
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/167440_1800750065448_1440712490_31970449_4437200_n.jpg"><img class="size-full wp-image-84 " title="kawah gunung gede" src="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/167440_1800750065448_1440712490_31970449_4437200_n.jpg?w=640" alt="kawah gunung gede"   /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">kawah gunung gede</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align:justify;">Subhanallah, pemandangan dari puncak gede benar-benar membuat kita tertegun. Jadi merasa kita tak ada apa-apanya dibandingkan semesta ini, apalagi dibandingkan penciptanya. Dan di sinilah kita harus menyadari, sesungguhnya naik gunung bukanlah menaklukkan puncak, bukan menaklukkan alam, tapi sebenarnya adalah menaklukkan diri kita sendiri, menaklukkan ego kita, karena di atas sana kita jadi menyadari betapa kecil dan lemahnya kita dibandingkan dengan hamparan semesta. *hening*</p>
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:justify;">
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/163712_1800744425307_1440712490_31970425_4769403_n.jpg"><img class="size-full wp-image-85 " title="puncak gede" src="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/163712_1800744425307_1440712490_31970425_4769403_n.jpg?w=640" alt="puncak gede"   /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">pemandangan dari puncak gede</dd>
</dl>
</div>
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:justify;">
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/162613_1800738625162_1440712490_31970407_5357314_n.jpg"><img class="size-full wp-image-86 " title="puncak gede" src="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/162613_1800738625162_1440712490_31970407_5357314_n.jpg?w=640" alt="puncak gede"   /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">kelihatan ada waduk cirata, sayang fokusnya salah</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align:justify;">Sebagai tetangga terdekat dari Gede, sepertinya gunung Pangrango juga perlu diekspos. Pangrango sedikit lebih tinggi dari Gede dan mempunyai bentuk kerucut, berbeda dengan gede yang memanjang seperti tangkuban perahu. Waktu itu, pangrango lagi pakai topi dari awan, lucu juga.</p>
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:justify;">
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/164536_1800742665263_1440712490_31970418_6187629_n.jpg"><img class="size-full wp-image-87 " title="pangrango" src="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/164536_1800742665263_1440712490_31970418_6187629_n.jpg?w=640" alt="pangrango"   /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">saya sudah setinggi gunung pangrango, apakah saya raksasa?</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align:justify;">Fitur yang ditawarkan oleh Gunung Gede tidak terbatas sampai di sini, ada satu lagi yang cukup mempesona, sebuah padang rumput yang banyak ditumbuhi pohon-pohon edelweis yang disebut-sebut sebagai <strong>Surken</strong>. Selidik punya selidik ternyata Surken ini merupakan singkatan dari kata <del>Suara Kentut</del> <strong>Surya Kencana</strong>. Entah kenapa dinamakan seperti itu, apakah gara-gara dulunya sering dipakai sama orang yang bernama Surya kencan atau gimana kurang tahu juga. Surken ini terletak di bawah puncak gede, diapit oleh gunung gede dan sebuah bukit. Dari atas puncak gede terlihat seperti Gambar 3.1. *kok jadi berasa TA ya*</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:justify;">
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/167006_1727517277810_1534785431_31706114_3634547_n.jpg"><img class="size-full wp-image-89 " title="surya kencana" src="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/167006_1727517277810_1534785431_31706114_3634547_n.jpg?w=640" alt="surya kencana"   /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Gambar 3.1. Surya kencana dari puncak gede</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align:justify;">Untuk mencapai surken ini, dari puncak Gede bisa<del> menggelindingkan diri</del> turun melewati jalur berbatu yang cukup terjal dibandingkan jalur pas naik tadi. Inilah jalur yang ditempuh untuk mencapai puncak gede jika berangkat dari gerbang Gunung Putri. Kami pun turun melewati jalur tersebut dengan pelan tapi tidak pasti, bingung kenapa gak nyampe-nyampe. Dan di tengah jalan kami dibikin bengong oleh orang yang disinyalir merupakan penjual nasi uduk yang tadi kami beli. Bapak-bapak itu seolah-olah sedang joging menuruni jalur tersebut, cepet banget turunnya, sementara kami harus ngesot-ngesot semacam siput yang lagi cacingan. Melihat aksi bapak tersebut, saya pun gak mau kalah sama bapak tersebut dengan mencoba sedikit lari saat turun. Perlu diketahui, untuk masalah lari2an, saya jagonya, saya juara lari tingkat keluarga. Tapi itu juara lari dari kenyataan. Setelah nyoba lari di turunan terjal tersebut, bukannya nyampe dengan cepat, tapi dengkul saya yang harus berciuman sama batu gara2 kepleset. Sakit sih, walaupun sakit dengkul tidak lebih sakit dari sakit hati. Dasar dengkul bego gak punya otak, udah tau batu, main cium-cium aja. Setelah hampir satu jam, akhirnya kami pun sampai di padang rumput Surya Kencana tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Benar-benar menakjubkan, ada padang rumput yang memanjang sejauh 2 km, diapit bukit yang tanamannya terlihat rapi, dan di bagian pinggir-pinggirnya dipenuhi pohon edelweis yang terlihat cantik. Di bagian tengah padang tersebut terdapat aliran sungai mini yang airnya cukup bersih, bahkan ketika diminum langsung, rasanya mirip kaya Aqua. Walopun biasanya aqua sepaket sama mijon (baca:mizone), tapi yang rasa mijon di sini kagak ada sih. Hembusan angin dan cakrawala indahnya semakin membuat tak ingin beranjak dari situ. Ingin rasanya tidur pulas di tengah rerumputan tadi. Benar-benar taman alami yang sangat nyaman.</p>
<p style="text-align:justify;">Di surya kencana ini juga merupakan pos untuk mendirikan tenda. Hal ini bisa dilihat di sekitar aliran air tersebut terdapat cukup banyak tenda. Akan tetapi konon ketika malam hari angin di sini sangat dingin, jadi mesti siap-siap kalau tidur di sini. Jangan coba-coba cuma pake <del>kolor</del> sarung doang, harus pake sliping bag.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<div id="attachment_94" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a href="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/167772_1800745985346_1440712490_31970430_3815287_n.jpg"><img class="size-full wp-image-94 " title="surya kencana" src="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/167772_1800745985346_1440712490_31970430_3815287_n.jpg?w=640" alt="surya kencana"   /></a><p class="wp-caption-text">berada di alun-alun surya kencana</p></div>
<p style="text-align:center;">&nbsp;</p>
<div id="attachment_95" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a href="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/167440_1800749985446_1440712490_31970447_4296126_n.jpg"><img class="size-full wp-image-95 " title="edelweis" src="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/167440_1800749985446_1440712490_31970447_4296126_n.jpg?w=640" alt="edelweis surken"   /></a><p class="wp-caption-text">edelweis di salah satu sudut surken, sayang gak berbunga</p></div>
<p style="text-align:center;">&nbsp;</p>
<div id="attachment_96" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a href="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/162958_1800749945445_1440712490_31970446_946141_n.jpg"><img class="size-full wp-image-96 " title="tidur surken " src="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/162958_1800749945445_1440712490_31970446_946141_n.jpg?w=640" alt="surken"   /></a><p class="wp-caption-text">nyamannya surken buat gelar lapak tidur</p></div>
<p style="text-align:justify;">Setelah berpuas-puas di surken, kami pun kembali naik ke puncak gede lewat jalan yang tadi, karena kami harus balik lagi ke cibodas. Dan jalur yang agak terjal ini memang cukup menyiksa, walaupun akhirnya sampai juga. Sekitar jam 11, dari puncak kami pun turun ke Kandang Badak, tempat camp kami. Teman yang tidak ikut naik ke puncak ternyata sudah memasak makanan untuk kami. Ya, dengan menu default naik gunung, yaitu nasi + mie instant + sarden.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah makan kami pun beres-beres tenda dan perlengkapan untuk turun. Dan sebelum turun ternyata kami harus meninggalkan oleh-oleh buat gunung gede berupa sisa metabolisme pencernaan makanan. Agak parah juga, oleh-oleh itu dibiarkan mengalir bersama aliran air yang ada di situ. Entah kalau di bawah ada yang pakai air itu, mungkin bisa dapat jackpot dari kami.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami pun turun melewati jalur yang sama dengan yang kemarin dilewati, dan setelah beberapa jam akhirnya sampai ke pos Panyancangan dan mampir ke air terjun Cibeureum. Saya, Dolly, dan Dafi akhirnya mencoba nyebur ke air terjun dan mencoba rasanya berdiri persis di tempat air jatuh sambil teriak. Puas di situ, akhirnya kami meneruskan perjalanan sampai gerbang Cibodas kembali. Sampai Cibodas sekitar jam 5 sore. Ternyata sabun yang saya titipkan kemarin dibalikin lagi, lumayan lah daripada mesti beli lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami pun beres-beres dan pulang. Yang ke arah Jakarta langsung naik bis jurusan kampung rambutan, sedangkan saya, Doni dan Dafi pulang ke Bandung lewat Cianjur, naik bis jurusan Cianjur-Bandung. Dan beruntung sekali bis nya ada tipinya, sehingga bisa nonton Final Piala AFF waktu itu, sayangnya Indonesia kalah 0-3 dari Malaysia. Dan akhirnya kami sampai kos jam 10an. Sungguh perjalanan yang mengasikkan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/enkz.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/enkz.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/enkz.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/enkz.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/enkz.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/enkz.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/enkz.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/enkz.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/enkz.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/enkz.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/enkz.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/enkz.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/enkz.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/enkz.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=enkz.wordpress.com&amp;blog=1063333&amp;post=74&amp;subd=enkz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enkz.wordpress.com/2011/02/25/gunung-yang-tidak-kecil-itu-gunung-gede-episode-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ccae95973863184d09ba5ebec1d9a34e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">enkz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/167462_1800736025097_1440712490_31970400_2900604_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tanjakan setan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/162613_1800738665163_1440712490_31970408_4319740_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sunrise gede</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/163712_1800744385306_1440712490_31970424_1302412_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">nasi uduk puncak gede</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/167440_1800750065448_1440712490_31970449_4437200_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kawah gunung gede</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/163712_1800744425307_1440712490_31970425_4769403_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">puncak gede</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/162613_1800738625162_1440712490_31970407_5357314_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">puncak gede</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/164536_1800742665263_1440712490_31970418_6187629_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pangrango</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/167006_1727517277810_1534785431_31706114_3634547_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">surya kencana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/167772_1800745985346_1440712490_31970430_3815287_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">surya kencana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/167440_1800749985446_1440712490_31970447_4296126_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">edelweis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://enkz.files.wordpress.com/2011/02/162958_1800749945445_1440712490_31970446_946141_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tidur surken </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gunung Yang Tidak Kecil Itu Gunung Gede (Episode 2)</title>
		<link>http://enkz.wordpress.com/2011/01/11/gunung-yang-tidak-kecil-itu-gunung-gede-episode-2/</link>
		<comments>http://enkz.wordpress.com/2011/01/11/gunung-yang-tidak-kecil-itu-gunung-gede-episode-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Jan 2011 04:14:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enkz</dc:creator>
				<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[air panas]]></category>
		<category><![CDATA[air terjun]]></category>
		<category><![CDATA[gede]]></category>
		<category><![CDATA[gunung gede]]></category>
		<category><![CDATA[kandang badak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enkz.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu, 25 Desember 2010 Cinta Fitri masih memberi inspirasi bagi saya untuk melanjutkan episode kisah perjalanan menuju puncak Gede. Miska memang jahat sih, tapi perjalanan menuju puncak tetep must go on. Oke, biar Cinta Fitri banget, mari flashback dulu ke &#8230; <a href="http://enkz.wordpress.com/2011/01/11/gunung-yang-tidak-kecil-itu-gunung-gede-episode-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=enkz.wordpress.com&amp;blog=1063333&amp;post=63&amp;subd=enkz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Sabtu, 25 Desember 2010</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Cinta Fitri masih memberi inspirasi bagi saya untuk melanjutkan episode kisah perjalanan menuju puncak Gede. Miska memang jahat sih, tapi perjalanan menuju puncak tetep must go on. Oke, biar Cinta Fitri banget, mari flashback dulu ke episode sebelumnya. Di episode sebelumnya diceritakan bahwa para &#8220;bekpeker frik&#8221; (baca:backpacker freak) calon penginjak puncak gede masih berada di pos pemeriksaan setelah menyerahkan ke petugas segala macam bentuk sabun-sabunan yang cukup membahayakan bagi kelangsungan hidup para pendaki,kalau sabunnya dimakan. Sekarang saatnya melangkahkan kaki yang disponsori sendal Eiger menuju puncak kemilau cahaya mengukir cita seindah asa, menuju puncak impian sejati bersatu janji kawan sejati. <em>*obsesi jadi bintang AFI mas?*</em></p>
<p style="text-align:justify;">Di deket pos pemeriksaan itu, terdapat papan berisikan berisikan peraturan yang harus dipatuhi pendaki, semacam tidak boleh merusak dan mencemari lingkungan, tidak boleh membuat api unggun, tidak boleh memetik edelweis, dan berbagaimacam ketidakbolehan lain. TNGGP ini peraturannya memang bejibun, sebanyak-banyak dosa Firaun. Untung aja tidak ada peraturan yang menyebutkan bahwa para pendaki tidak boleh bermuka hancur, atau tidak boleh berstatus mahasiswa bangkotan, kalau ada sudah pasti kalah sebelum bertanding, mentok nyampe pos pemeriksaan doang. <span id="more-63"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Di situ juga ada peta jalur pendakian kaya yang ada di gambar ini.<br />
<a href="http://enkz.files.wordpress.com/2011/01/peta.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-66" title="peta" src="http://enkz.files.wordpress.com/2011/01/peta.jpg?w=640&#038;h=426" alt="gunung gede" width="640" height="426" /></a><br />
Melihat peta itu, rasanya gembira tiada tara, bukan karena nyampe puncak tinggal ngesot doang, tapi gara-gara ada shelter-shelter di jalur tersebut. Saya pun berharap shelter-shelter ini merupakan shelter busway yang bisa langsung membawa kami ke puncak, mungkin ini koridor yang baru dibuka. Kami pun cepat-cepat berjalan melewati jalanan berbatu yang tersusun rapi untuk menuju shelter pertama berharap kita bisa nunggu busway di sana. Dan ternyata kami mendapatkan zonk pemirsa, shelter busway itu hanya angan-angan belaka, ternyata yang namanya shelter itu cuma semacam bangunan kecil buat istirahat. Lagian siapa juga yang mau buat koridor busway di sana.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami pun harus menusuri jalan yang masih tersusun rapi dari batu itu, yang sambil merem pun bisa sampai, merem mata kakinya. Di pinggir jalan ada yang namanya Telaga Biru, semacam telaga yang konon airnya berwarna biru. Tapi pas saya lihat, airnya tidak biru-biru amat, tp biru kehijau-hijauan. Birunya seperti udah luntur, pewarnanya pake pewarna KW kayaknya. Sepanjang jalan cukup terheran-heran melihat kostum para pengunjung gunung Gede ini. Banyak yang ke sana bawa badan doang, sendal/sepatu pun banyak yang berupa sendal/sepatu jeng-jeng ke mall. Jadi mikir jangan-jangan gunung Gede ini sebenarnya adalah suatu Mall yang cukup besar dan ramai. Yang datang banyak sekali dari kalangan pasangan muda-mudi yang sepertinya lagi dimabok Ce-I-En-Te-A, anak-anak kecil yang belum bisa nyentuh telinganya sendiri dan pipis aja belum lurus., dan sepertinya juga ada kakek-nenek yang kenya sudah tua dan giginya tinggal dua Jadi merasa salah kostum banget bawa tas-tas segede gambreng dan pake sendal trekking yang dipersembahkan Eiger. <em>*iklan dulu lagi, biar kaya Cinta Fitri*</em>. Sampai shelter Panyangcangan baru nyadar kalau orang-orang yang saya kira mau laundry mata di mall itu ternyata mau ke air terjun Cibeureum yang letaknya 300 meter dari shelter. Di shelter ini pula jalan rapi yang tak terlalu menanjak ini berakhir buat para pendaki puncak karena kalau ke puncak mesti belok kiri.  Kita tidak langsung ke Cibeureum <em>*ini nama air </em><br />
<em>terjun susah banget ngucapinnya deh*</em> soalnya mesti menyimpang dari jalur utama ke puncak, jadi mau langsung muncak saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan babak baru pendakian dimulai, jalan pun sudah mulai tidak manusiawi lagi. Jalur pendakian berupa jalan setapak yang terbuat dari tanah yang kadang landai tapi sering juga menanjak. Tanjakan juga sudah didesain sedemikian rupa sehingga jalannya tidak menurun. Untung saja pas tanjakan ada batu-batu loncatan yang didesain buat para <del>kutu loncat</del> pendaki yang hobi meloncat di tanjakan. Karena saya hanya rakyat <del>jelalatan</del> jelantah, saya menggunakan batu-batu itu untuk pijakan sahaja, biar gak terpeleset pas nanjak. Di jalan ini henpon mulai tak terlalu berguna karena sinyal mulai sakaratul maut dan perlahan menemui ajalnya. Penonton kecewa berat, padahal pengen nulis di plurk, twitter atau FB, <em>&#8220;lagi nanjak bawa tas berat nich! gak bisa fesbukan&#8221;</em> atau <em>&#8220;lagi sibuk naik gunung nich! gak bisa apdet status&#8221;</em> *jangan lupa nih-nya pake ch* Akhirnya saya hanya berharap Zaki si calon bos telkomsel lain kali mencangking BTS kalo mau mendaki lagi dan juga berharap ke candra sama dafi calon bos PLN untuk menenteng kabel listrik pas mendaki lagi atau membuat pembangkit listrik tenaga dalam.</p>
<p style="text-align:justify;">Benarlah kalau dibilang lebih baik mendaki gunung itu bulan april sampai november, soalnya desember seperti ini hujan sering melanda, bahkan ada badai menghadang. Tapi walau badai menghadang ingatlah ku kan selalu setia menjagamu berdua kita lewati jalan yang berliku tajam. Eh, jadi kaya ada band aja, padahal di gunung tidak ada band. Ya, di jalan kami sempet kehujanan, tapi karena kesaktian kami dalam menggunakan jurus ponco,  kami tetap bisa bertahan tanpa terlalu basah.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah beberapa jam jalan melewati jalur yang gampang-gampang susah, <em>*atau susah-susah gampang ya?</em> (unsure)* akhirnya kita menjumpai suatu fenomena menarik dan langka yang disebut &#8220;Air Panas&#8221;. Jadi ada semacam tebing yang mengeluarkan air yang suhunya cukup panas, kaya air di tremos gitu. Dan air panas itu mengalir melewati satu-satunya jalur pendakian di situ. Yang lebih mengerikan lagi, bagian kanan jalur itu adalah sebuah jurang yang sangat dalam, sementara bagian kirinya tebing. Jadi tidak ada pilihan lain kecuali melewati air panas sepanjang sekitar 15 meter dengan lebar jalur hanya sekitar 1 meter dan berasap tebal mengaburkan pandangan. Salah melangkah saja atau kaget terkena air panas pas jalan, taruhannya nyawa, bisa nyemplung jurang. Untungnya sudah ada tali di bagian yang dekat jurang sehingga pendaki bisa berpegangan pada tali tersebut saat jalan. Ada batu-batu buat pijakan juga walaupun tetap saja kena air panasnya yang memang cukup panas. Lega rasanya setelah bisa melewati fenomena aneh yang sepertinya hanya bisa dijumpai di gunung gede ini, mantap jaya sentosa lah! Buat yang mau minum kopi tapi malas rebus air, air panas ini bisa jadi alternatif untuk ngopi, malahan kopinya jadi tambah berasa, rasa belerang.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah lewat air panas, di pinggir jalan kami menemukan sungai yang ada semacam air terjun mini nya. Melihat ini spot bagus buat ajang menyalurkan obsesi kami sebagai foto model majalah bobo, kontan saja kami turun untuk foto-foto di situ. Tapi begitu masuk airnya, kaki serasa dianiaya, sakit, membeku. ini sih sepertinya air es yg lagi mencair. Kalau mau bikin es jus jeruk tinggal meres jeruk aja di sungai ini, tuangin gula dikit udah jadi. Seperti yin dan yang, tadi ada aliran air sepanas auramu, kini ada aliran air sedingin hatimu. <em>*haiah, apa pula ini*</em> .<br />
<a href="http://enkz.files.wordpress.com/2011/01/airterjun.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-64" title="airterjun" src="http://enkz.files.wordpress.com/2011/01/airterjun.jpg?w=640" alt="air terjun gede"   /></a><br />
Selesai menarsiskan diri, kami pun melanjutkan perjalanan hingga sampai di posko Kandang Batu. Aneh juga namanya, batu kok dikandang, kaya mau lari aja batunya, emangnya kamu yang terus lari-lari di pikiranku. #eaaa. Ada beberapa tenda di sini, sepertinya memang tempat camp, tapi rada gelap tempatnya, sempit pula, gak terlalu asik buat ngecamp. Akhirnya diputuskan untuk ngecamp di posko selanjutnya saja, Kandang Badak, yang kami tempuh selama satu setengah jam dari kandang batu. Di Kandang Badak cukup banyak berceceran tenda di sana sini, tempatnya juga lebih luas, rimbun tapi tidak gelap, ada aliran air pula. Akhirnya di sinilah kita mengonggokkan diri istirahat setelah sekitar 6 jam lebih mengesot-ngesot dari cibodas. Awalnya kami tidak mendapatkan kapling buat tenda, penuh, tp entah kenapa begitu kami datang, orang-orang banyak yang kukukan lapak tendanya buru-buru melarikan diri. Kami memang tampang preman kampung, tapi hati kami hello kitty kok, harusnya tak perlu takut.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang pertama kami lakukan pun nyalain kompor dan masak nasi, sarden dan mie instan yang merupakan makanan default mendaki gunung. Penderitaan tanpa sinyal henpon kami rasakan kembali, karena sebenarnya kami pengen telpon 14045 pesen delivery service burger atau ayam aja daripada repot2 masak, sayang gak ada sinyal buat nelpon. Tapi ya sudah, akhirnya kami makan hasil masakan tersebut, sebagaimana prinsip kami,&#8221;kumpul gak kumpul asal makan&#8221;.<br />
<a href="http://enkz.files.wordpress.com/2011/01/makan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-65" title="makan" src="http://enkz.files.wordpress.com/2011/01/makan.jpg?w=640" alt="kandang badak"   /></a><br />
Oh maaf kelewat, hal pertama yang kami lakukan di kandang badak ternyata adalah mencari-cari dimana badaknya. Secara namanya Kandang Badak. Kami hanya berharap badak itu tidak lepas dan mencuri makanan yang kami bawa. Dan itu kenapa kami butuh sinyal, kalau makanan direbut badak, kami bisa telpon MekDi atau KeEfSi. Tapi ternyata badak itu hanyalah hoax, tak ditemui sebiji badak pun. Yang ada hanyalah kami yang bermuka badak godain kalau ada mbak-mbak yang lewat, nyanyi-nyanyi rayuan gombal. Ya beginilah nasib pendaki yang hampir semuanya laki-laki tuna asmara, bahkan Tuna Asmara-nya sudah sejak dalam kandungan.  <em>*curcol*</em> Ada makhluk yang beda varietas lewat saja langsung heboh. Untung gak kena gampar sendal Eiger si mbak-mbaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Adegan selanjutnya adalah mendirikan tenda. Kami membawa 3 buah tenda dimana salah satunya saya yang menyewa seharga 25 ribu perhari. Ada satu tenda yang cukup besar yang dibawa teman saya, dengan kapasitas 8-10 orang. Karena malas mendirikan banyak tenda, diputuskan mendirikan satu tenda itu saja untuk 11 orang. Dan benarlah, pada malam harinya, ke-11 orang itu bertumpuk undung tidur dalam satu tenda saja. Alhasil mau gerak saja susah, posisi tidur juga sudah antah berantah, yang muka ketemu sama kaki lah, yang tidak bisa meluruskan kaki lah. Kalau ada yang maho bakal seneng banget lah dengan tidur yang seperti ini, tapi eyke bukan maho boo&#8217;, apalagi bencong, enggak banget deh cyiin! Ketidaknyamanan tidur seperti ini menyebabkan satu orang harus tereliminasi dari ajang perebutan lapak tidur ini dan memilih menggelar slipingbek di luar tenda.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami rencana bangun jam setengah 3 biar jam 3 bisa langsung melakukan <em>summit attack</em> dari Kandang Badak ke puncak yang berjarak 2,5 jam. Entah kenapa mendaki puncak biar dapat sunrise ini namanya summit attack. Jadi berpikir di atas ada KFC yang jual paket attack. Tp nenek-nenek yang giginya tinggal dua dan mau mati besok aja juga tau kalau KFC kayaknya tak bakal buka lapak di puncak gunung gede. Satu orang yang namanya Kancrid menyarankan biar ke puncaknya tidak usah membawa tas, dan dia siap menjaga barang-barang bawaan kami di kandang badak. Karena dia sebelumnya sudah pernah ke puncak gede, jadi dia tidak masalah tidak ikut muncak lagi. Dia bilang yang dia cari adalah kebersamaan bersama kami, bukan puncak. *terharu mengharu hijau*</p>
<p style="text-align:justify;">Sepertinya waktu episode ini sudah habis, kita lanjutkan kisahnya di episode selanjutnya saja. Sebagai spoiler, episode depan akan diceritakan tentang summit attack, keindahan puncak, surya kencana, hingga ceritanya tamat.</p>
<p style="text-align:justify;">Bersambung&#8230; *jeng jeng!*</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/enkz.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/enkz.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/enkz.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/enkz.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/enkz.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/enkz.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/enkz.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/enkz.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/enkz.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/enkz.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/enkz.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/enkz.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/enkz.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/enkz.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=enkz.wordpress.com&amp;blog=1063333&amp;post=63&amp;subd=enkz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enkz.wordpress.com/2011/01/11/gunung-yang-tidak-kecil-itu-gunung-gede-episode-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ccae95973863184d09ba5ebec1d9a34e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">enkz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://enkz.files.wordpress.com/2011/01/peta.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">peta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://enkz.files.wordpress.com/2011/01/airterjun.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">airterjun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://enkz.files.wordpress.com/2011/01/makan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">makan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gunung Yang Tidak Kecil Itu Gunung Gede (Episode 1)</title>
		<link>http://enkz.wordpress.com/2011/01/10/gunung-yang-tidak-kecil-itu-gunung-gede-episode-1/</link>
		<comments>http://enkz.wordpress.com/2011/01/10/gunung-yang-tidak-kecil-itu-gunung-gede-episode-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 07:28:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enkz</dc:creator>
				<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[cibodas]]></category>
		<category><![CDATA[gede]]></category>
		<category><![CDATA[pangrango]]></category>
		<category><![CDATA[tnggp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enkz.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Jumat 24 Desember 2010 Hari itu hari jumat, hari dimana dunia persandalan nasional selalu ramai, karena begitu banyak sandal yg tiba2 berganti tuan selepas sholat jumat. Sayang sekali sendal saya tak berubah jd tambah bagus padahal saya sudah berdoa, &#8220;Ya &#8230; <a href="http://enkz.wordpress.com/2011/01/10/gunung-yang-tidak-kecil-itu-gunung-gede-episode-1/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=enkz.wordpress.com&amp;blog=1063333&amp;post=52&amp;subd=enkz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Jumat 24 Desember 2010</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hari itu hari jumat, hari dimana dunia persandalan nasional selalu ramai, karena begitu banyak sandal yg tiba2 berganti tuan selepas sholat jumat. Sayang sekali sendal saya tak berubah jd tambah bagus padahal saya sudah berdoa, &#8220;Ya Allah, jika sandal saya tertukar, berikanlah tukeran sandal yg lebih baik dari sandal saya sekarang pas jumatan nanti. Kabulkan Doa Baim ya Allah. Amin.&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Pagi hari di jumat itu, tas semi kerir (baca: carrier) yg saya pinjem dr temen sudah bisa berdiri sendiri tanpa halangan suatu apapun, gara2 tas itu sudah penuh dengan barang2 yg sudah saya jejal-jejalin sejejal-jejalnya pada malam harinya, entah kalo dibuka lagi barang-barang itu sudah jadi apa. sebelumnya, dini hari sekitar jam 1-an, saya mendadak beralih profesi jadi tukang resleting. Hal ini gara-gara resleting di tas tersebut tidak bisa menjalankan tugasnya untuk melindungi dan mengayomi seisi tas dengan baik dan benar. Ada permasalahan teknis dimana salah satu resleting tas itu lepas, dan ada bagian yang patah. Setelah berusaha sekuat tenaga mengerahkan jiwa raga selama sekitar satu jam, akhirnya resleting itu pun bisa berfungsi kembali. Kejadian ini membuat saya tersadarkan, betapa pentingnya benda yang dinamakan resleting. Saya rasa resleting merupakan penemuan paling fenomenal abad ini. SBY atau Obama saja juga pakai resleting di celananya, sulit dibayangkan kegemparan dunia ini kalau resleting di celana mereka tak digunakan atau rusak <del>sehingga terlihat hal-hal yang tak seharusnya terlihat</del>. Tak bisa dipungkiri lagi, resleting memang sangat berguna bagi nusa dan bangsa. Eh, ini kenapa malah bahas resleting! (doh)<br />
<span id="more-52"></span><br />
Baiklah, mari back to topik saja. Kalau nyolokin colokan listrik yang hati-hati ya, jangan sampai malah resleting. <em>*kriuk</em>* Halah, teteup aja masih resletingan -_-&#8221;. Udah-udah, kukut kukut resleting2annya!! (angry_okok)</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi kenapa saya peking-peking (baca: packing) tersebut, karena saya ingin menyanyikan lagu jaman kanak-kanak dulu, <em>&#8220;naik naik ke puncak gunung gede gede sekali&#8230;kiri kanan kulihat saja banyak pohon stlobeli&#8230;&#8221;</em>(music). Ya, karena saya rencana naik Gunung Gede, bukan Gunung Tinggi, makanya lagunya jadi gitu, berharap ada pohon stlobeli beneran. Hal ini terinspirasi dari sebuah kisah dua tahun silam, tentang sebuah pendakian gunung, dimana tokoh utama dalam kisah itu diperankan oleh saya sendiri. Dua tahun lalu beberapa teman mengajak saya untuk bekpekeran ke gunung Rinjani di Lombok. Karena krisis finansial sedang melanda saya, dimana saat itu uang hasil mengelap keringat belum turun <em>*belom sampe level memeras keringat*</em>, dan sementara saya juga tidak mau meminta uang ke orang tua untuk hal-hal selain kebutuhan hidup dan kuliah, akhirnya saya tak berpartisipasi dalam ekspedisi menggembel dan mengeteng &#8216;Backpacker Freak Elektro 05&#8242; ke rinjani itu. Melihat foto2 mereka sepulang dari rinjani, timbullah gejolak rasa sesal yang teramat mendalam di dalam dada yang tak pernah hilang hingga sekarang terhadap ketidakikutan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Berawal dari situ, akhirnya saya bertekad untuk tidak mengulangi hal yang sama, dengan cara sebisa mungkin langsung ngomong &#8220;YA Banget Cyiin!!&#8221; kalau ada yang ngajak naik gunung. Dan akhirnya pun saya langsung meng&#8217;iya&#8217;kan ajakan naik ke Gunung Gede yang terletak di antara Cianjur dan Bogor, walopun sebenarnya saya tak punya banyak pengalaman dalam dunia pernaikgunungan. Sebelumnya cuma pernah mendaki gunung manglayang sama tangkuban perahu yang ketinggiannya masih icik-icik (adiknya ecek-ecek). Rencana yang ikut naik ada 11 orang, 9 orang anak elektro itb 05 yang 5 diantaranya pernah ke Rinjani dan 2 orang temennya temen, anak UI. 8 orang di antaranya merupakan penghuni ibu kota, 2 orang dari bandung, dan 1 orang dari semarang, diputuskan untuk tidak berangkat bareng-bareng lewat semarang, tapi dari jakarta saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Selepas jumatan saya berangkat bersama Doni, temen kosan di bandung sesama <del>mahasiswa bangkotan</del> teman senasib dalam perkuliahan, dan Dafi, pegawai PLN di Semarang yg cukup membuat saya cukup ngeper, karena kalo kita lagi bareng, kegantengannya bisa mematikan pasaran saya (doh). Kita ke Jakarta naik kereta Argo Parahyangan setelah mendapat tiket tanpa tempat duduk. Langsung saja lah menggelar lapak matras di deket pintu kereta dengan sengaja membuka pintu kereta biar ada sensasi semriwingnya dan biar bisa lihat pemandangan sepanjang bandung-jakarta yg cukup lumayan, walopun resiko ditanggung penumpang sih, kalo gak hati2 bisa kelempar keluar. Sempet kepikiran, kayaknya keren juga kalo loncat dari kereta, jadi semacam di pilem-pilem gitu deh. Tadinya pengen gelar slipingbek aja, tp curiga ntar malah dikira mayat2 korban bencana alam bergelimpangan yg dimasukin ke kantung trus dijejerin gitu. Iya kalo dikira mayat, lha kalo dikira trashbag sampah trus dilempar gitu aja dari kereta kan repot juga. Jadinya ya cuma duduk ganteng di emperan pintu sahaja. Enggak ding, sebagai rakyat jelantah yang baik, saya hanya duduk berserakan di pinggir gerbong sahaja. Kereta jalannya sangat labil, kadang lambat kadang cepat, kadang berhenti juga. Jadi curiga kalau ban kereta ini lagi bocor. Mungkin jalannya lagi penuh lubang.</p>
<p style="text-align:justify;">Nyampe Jakarta langsung menuju kosan Rully, seorang karyawan Perusahaan Siemens yg berperan sebagai Pak Kumendan dalam acara trip menggede ini. Di sana sudah ada Dolly, mantan Ketua HME yg punya pengalaman bertarung dengan lebah hutan Kalimantan menggunakan jurus nyemplung lumpurnya. Ada juga yg namanya Kancrid, dialah orang yg paling expert dalam dunia permendakigunungan, dia pernah ke Gede dengan kesaktiannya yg hanya tidur pake sarung di Gede, dan sudah banyak puncak gunung di Jawa yang telah diinjak-injaknya. Kami tinggal bertemu di terminal kampung rambutan dengan Ikhwan si enjinir kreatip yang pernah menjuarai berbagai lomba keelektroan, Candra sang juru kunci listrik ibu kota, Zaki si bos telkomsel, dan dua orang temen Ikhwan yaitu si Alfian dan Odi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sabtu, 25 Desember 2010 </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dan entah kenapa jam setengah satu malem kita baru bisa ngumpul full team dan tanpa babibu langsung masuk bis jurusan kampung rambutan &#8211; tasikmalaya. Tas-tas karir segede gaban dibiarkan teronggok bagai kaleng-kaleng berserakan di sela-sela kursi sampai-sampai ada pedagang asong yang melayangkan saran dan kritik terhadap kami karena tas-tas itu dianggap mengganggu mobilitasnya selama menjajakan barang dagangannya. Tapi karena tas-tas itu teronggok sesuai instruksi kondektur, jadi kamipun cuek bebek peking. Dan sepertinya hampir semua sopir menerapkan prinsip &#8220;ngeTime is money&#8221;, jadinya di jalan sempet ngetime (baca: ngetem) lama, entah berapa lama, rasanya kaya sekitar empat ratus juta ribu puluh abad. Tau Ah! yang jelas kita nyampe Cibodas jam 3 pagi aja. Dari jalan besar ke Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), kami diantar oleh angkot yang berwarna kuning-kuning.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai sana masih gelap, sambil nunggu subuh kita pun menggelar matras di depan sebuah warung soto, dan teronggok bagai kaleng-kaleng berserakan. <em>*teuteup*</em> Setelah subuhan, kita pun tergeletak berceceran tidur di depan warung itu hingga akhirnya suara pintu warung yang dibuka membangunkan kami. Tau warung dibuka ternyata tak membuat kami merasa tau diri untuk mengusirkan diri kukutan dari depan warung itu, kami justru tetap steikul (baca:stay cool) dengan pose-pose berserakan kami melanjutkan tidur. Tapi akhirnya aroma soto membangunkan kami yang memang sudah lapar jaya, kami pun makan di warung itu.<br />
<a href="http://enkz.files.wordpress.com/2011/01/tidur.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-53" title="tidur" src="http://enkz.files.wordpress.com/2011/01/tidur.jpg?w=300&#038;h=224" alt="enggar" width="300" height="224" /></a><br />
Untuk masuk TNGGP, para pendaki mesti mengantongi yang namanya SIMAKSI. Saya kepikirannya SIMAKSI itu Surat Ijin Makan Siang, maklum lagi lapar, tapi itu ternyata Surat Ijin Masuk Area Konservasi. Karena sebelumnya kami belum sempat melakukan pendaftaran online di website <a title="gede pangrango" href="http://gedepangrango.org">gedepangrango.org</a>, jadi mesti nunggu kantor TNGGP buka buat dapet SIMAKSI itu, dan konon katanya baru buka jam 9. Belum lagi buat ngurus administrasinya bisa lama, keburu gunungnya kempes mengecil, bukan Gunung Gede lagi tapi jadi Gunung Kecil. Untung aja ada bapak-bapak baik hati dan tidak sombong, yang mau menjadi perantara pengurusan administrasinya, dan per orang cukup membayar 10 ribu kalau gak salah. Bapak-bapak itu semacam jadi pahlawan pembela kebetulan dan keadilan bagi kami. Dengan wajah berseri mewangi sepanjang hari, kami pun memulai melangkahkan kaki yang rata-rata disponsori oleh sendal EIGER.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami menuju pos pemeriksaan barang-barang yang konon semua barang yang dibawa bakal dicek satu-satu. Saya hanya mikir, apa gunanya saya sudah packing semaleman kalo akhirnya diudal-udal lagi. Di TNGGP ada peraturan tidak boleh membawa sebangsa sabun-sabunan karena ditakutkan akan digunakan untuk hal yang tidak-tidak. Maksudnya hal-hal yang bisa mencemari lingkungan. Karena saya bawa sabun juga, saya harus siap mengorbankan sabun yang selama ini saya gunakan buat sabunan. *<em>ya eyaa laah, masak dimakan*</em>. Hal ini karena rencananya kita naik dari Cibodas dan turun lewat Gunung Putri, jadi kalo sabun udah ditahan, gila aja kalo mau ambil lagi di Cibodas. Di sini juga tidak boleh bawa senjata tajam yang panjangnya lebih dari 15 cm.  Dan tidak dinyana-nyana, ternyata ada salah satu anggota rombongan kami yang bawa golok gede dengan panjang lebih dari 15 cm. Mungkin dia belum pernah baca novel 5 cm yang konon menginspirasi banyak pendaki gunung, jadi dia tidak terinspirasi untuk bawa golok yang panjangnya hanya 5 cm. Golok inilah yang akhirnya jadi pengubah rencana kami semula. Goloknya terlalu bagus buat dikorbankan kalau turun lewat Putri, akhirnya pun kita memutuskan buat balik lagi turun lewat Cibodas biar bisa ambil goloknya lagi.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://enkz.files.wordpress.com/2011/01/fultim.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-54" title="fultim" src="http://enkz.files.wordpress.com/2011/01/fultim.jpg?w=640&#038;h=425" alt="" width="640" height="425" /></a><br />
Dan gosip yang menyebutkan bakal ada pemeriksaan barang satu-satu itu ternyata hoax, benarlah karena tidak ada pic-nya juga sebelumnya, nopic = hoax. Akhirnya tanpa mengudal-udal tas lagi, kita memulai menapaki jalan bebatuan yang cukup bagus. Terinspirasi dari Cinta Fitri yang bersambung terus gak habis-habis, tentang kisah perjalanan mendaki sampai puncak, akan ditayangkan pada episode selanjutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bersambung&#8230;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/enkz.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/enkz.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/enkz.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/enkz.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/enkz.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/enkz.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/enkz.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/enkz.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/enkz.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/enkz.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/enkz.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/enkz.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/enkz.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/enkz.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=enkz.wordpress.com&amp;blog=1063333&amp;post=52&amp;subd=enkz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enkz.wordpress.com/2011/01/10/gunung-yang-tidak-kecil-itu-gunung-gede-episode-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ccae95973863184d09ba5ebec1d9a34e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">enkz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://enkz.files.wordpress.com/2011/01/tidur.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">tidur</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://enkz.files.wordpress.com/2011/01/fultim.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">fultim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangkitkan Blog Lama Yang Sempat Tercecer Bagai Kaleng-kaleng Berserakan</title>
		<link>http://enkz.wordpress.com/2011/01/10/membangkitkan-blog-lama-yang-sempat-tercecer-bagai-kaleng-kaleng-berserakan/</link>
		<comments>http://enkz.wordpress.com/2011/01/10/membangkitkan-blog-lama-yang-sempat-tercecer-bagai-kaleng-kaleng-berserakan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 06:50:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enkz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[berserakan]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[jelantah]]></category>
		<category><![CDATA[kaleng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enkz.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Blog ini sebenarnya sudah cukup lama, merupakan salah satu blog dari berpuluh juta ribu ratus blog yang ada di dunia, dan salah satu blog dari puluhan blog yang pernah saya buat. Tiba-tiba pengen mendokumentasikan perjalanan-perjalanan yang saya lakukan di blog. &#8230; <a href="http://enkz.wordpress.com/2011/01/10/membangkitkan-blog-lama-yang-sempat-tercecer-bagai-kaleng-kaleng-berserakan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=enkz.wordpress.com&amp;blog=1063333&amp;post=50&amp;subd=enkz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Blog ini sebenarnya sudah cukup lama, merupakan salah satu blog dari berpuluh juta ribu ratus blog yang ada di dunia, dan salah satu blog dari puluhan blog yang pernah saya buat. Tiba-tiba pengen mendokumentasikan perjalanan-perjalanan yang saya lakukan di blog. Dan blog inilah yang akhirnya saya rombak ulang untuk menjadi tempat catatan perjalanan. Postingan-postingan sebelumnya yang tidak terlalu membumi di dunia perblogingan amatir saya hapus semua saja, dan semoga akan tergantikan postingan-postingan baru tentang perjalanan-perjalanan yang saya lakukan. Bekicot aja postingan-postingan setelah ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya resmikan pembukaan kembali blog &#8220;Hanya Rakyat Jelantah Sahaja Yang Teronggok Bagai Kaleng Berserakan&#8221; ini sekarang juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Gong! Gong! Gooooonnggg! <em>*suara nabuh gong*</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/enkz.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/enkz.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/enkz.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/enkz.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/enkz.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/enkz.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/enkz.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/enkz.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/enkz.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/enkz.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/enkz.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/enkz.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/enkz.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/enkz.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=enkz.wordpress.com&amp;blog=1063333&amp;post=50&amp;subd=enkz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enkz.wordpress.com/2011/01/10/membangkitkan-blog-lama-yang-sempat-tercecer-bagai-kaleng-kaleng-berserakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ccae95973863184d09ba5ebec1d9a34e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">enkz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Blog baru enggar</title>
		<link>http://enkz.wordpress.com/2007/05/05/hello-world/</link>
		<comments>http://enkz.wordpress.com/2007/05/05/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 May 2007 14:37:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>enkz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://enkz.wordpress.com/2007/05/05/hello-world/</guid>
		<description><![CDATA[selamat datang di blognya enggar. ni blog belom di isi apa2. cupu sih! hehe<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=enkz.wordpress.com&amp;blog=1063333&amp;post=1&amp;subd=enkz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>selamat datang di blognya enggar. ni blog belom di isi apa2. cupu sih! hehe</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/enkz.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/enkz.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/enkz.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/enkz.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/enkz.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/enkz.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/enkz.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/enkz.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/enkz.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/enkz.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/enkz.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/enkz.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/enkz.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/enkz.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/enkz.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/enkz.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=enkz.wordpress.com&amp;blog=1063333&amp;post=1&amp;subd=enkz&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://enkz.wordpress.com/2007/05/05/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ccae95973863184d09ba5ebec1d9a34e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">enkz</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
